Pindah Kota (Lagi)

Mengikuti suami yang sudah duluan dimutasi ke Jakarta, aku dan Zimam, anak laki-lakiku, akhirnya pindah ke Jakarta. Kami menginggalkan Pangkalpinang dan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang telah kami tahbiskan menjadi kampung halaman Zimam.

Jakarta adalah kota terkahir dari pilihan kota yang ingin aku tinggali. Tapi, rupanya takdir “terkahir” ini memang selalu berada di sekelilingku.🙂

Jika ikut arisan, aku selalu menang yang terakhir. Namaku diawali dengan huruf Y, huruf kedua terakhir abjad latin, membuat nomor urut absenku nyaris selalu paling belakang. Suamiku adalah laki-laki terakhir pilihanku (hahaha). Dan sekarang, aku ditakdirkan untuk tinggal di kota terakhir yang aku pilih.

Tempat tinggalku di Jakarta adalah sebuah rumah (cukup) besar, namun di gang senggol. Ironis, ya? Hahaha..

Benar, walaupun masih ngontrak, aku kadang gak enak sendiri sama tetangga sekitarku, karena memang rumahku lah yang “benar-benar” rumah.

Mencoba menikmati rutinitas Jakarta, mencoba melebur dengan kesibukan kota metropolitan ini. Mencoba berdamai dengan diri sendiri.

Kenapa tidak? ^_^

Dipublikasi di Cerita, Kotaku, Perasaan Hati | Meninggalkan komentar

Cuma di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung!

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, atau biasa disingkat dengan Babel, adalah salah satu provinsi di Indonesia hasil pemekaran dari Provinsi Sumatera Selatan. Beribukota di Pangkalpinang, Babel adalah salah satu provinsi tujuan wisata terkemuka di Indonesia. Apalagi semenjak ada film Laskar Pelangi dan sekuelnya, Sang Pemimpi.

Ada dua kota besar di Babel, yaitu Kota Pangkalpinang, dan Kecamatan Tanjung Pandan (yang merupakan ibukota dari Kabupaten Belitung). Dan inilah yang membuat Babel menjadi provinsi unik, lain dari yang lain.

Biasanya, kecuali provinsi Kalimantan Timur, ibukota provinsi adalah pusat peradaban. Segala sesuatu hal berhubungan dulu dengan ibukota provinsi baru ke daerah-daerah lain di provinsi tersebut. Babel ini beda.

Tanjung Pandan (aku tidak berani menyebutnya “kota” walaupun penduduk lokal menyebutnya demikian), nyaris tidak bergantung pada Pangkalpinang sebagai ibukota provinsi. Yang paling mencolok adalah rute penerbangan. Untuk terbang menuju Tanjung Pandan, dari Pangkalpinang, kita harus transit dulu di ibukota negara, Jakarta. Ya, tidak ada rute penerbangan langsung dari Pangkalpinang ke Tanjung Pandan.

Belum lagi kebutuhan-kebutuhan pokok. Masyarakat Tanjung Pandan menyuplai sendiri bahan kebutuhan pokoknya langsung dari Jakarta (Pangkalpinang saja, kadang mesti menyuplai dari Palembang). Benar-benar unik.

Dari segi objek wisata, Tanjung Pandan malah lebih terkenal daripada Pangkalpinang. Negeri Laskar Pelangi itu adalah sebutan untuk Pulau Belitung, bukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Mantap sekali ^_^

Itulah uniknya provinsi ini. Terdiri dari dua pulau besar, masing-masing pulau punya bahasa melayu dengan dialek yang berbeda, dan nyaris tidak saling bergantung.

Cuma di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung! ^_^

Dipublikasi di Cerita, Kotaku, Perasaan Hati | 4 Komentar

Kotaku… eng… Negaraku Hari Ini (???)

Negaraku hari ini…

Sejak kemarin yang aku tonton adalah acara pertunjukan realitas Sidang MK. Segala macam polemik mengerikan dibeberkan. Memusingkan!

Pak Bibiet dan Pak Chandra sudah dilepaskan (tapi belum dibebaskan) dari tahanan, Anggodo yang mengerikan belum ditangkap. Haduh!!!

Kita lihat saja selanjutnya, ya!!! (^_^)

Dipublikasi di Cerita, Kotaku, Perasaan Hati | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Mati Listrik.. Lagi..

Cape nya tinggal di Pangkalpinang, mati listrik jadi menu harian!
Bayangin aja, masa mati listriknya bukan hanya dua hari sekali atau seminggu dua kali. Tapi tiap delapan jam!
(*kira-kira segitu, lah!*)

Seingatku, hari Kamis yang lalu, listrik mati jam 5 sore, dan bertahan sampai jam 11 malam. Untung saja aku sudah masak nasi untuk sahur, kalau tidak, bagaimana kami bisa makan sahur? T_T

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Cerita, Kotaku, Perasaan Hati | Tag , , , | 4 Komentar

Selamat Berpuasa

Bulan Ramadhan tahun ini adalah Bulan Ramadhan pertamaku di Pangkalpinang. Banyak sekali perbedaan yang aku rasakan dibandingkan dengan Ramadhan di Banjarmasin. Salah satunya adalah waktu sahur dan berbuka.

Waktu di Banjarmasin, Shubuh jatuh pada sekitar pukul 05.00 WITA, jadi, aku masih bisa bangun jam setengah empat dan sahur jam empat atau setengah lima. Tapi bukannya jam setengah 7 (T_T)

Di Pangkalpinang, Shubuh jatuh pada pukul 04.35 WIB sehingga aku harus sudah sahur jam empat pagi. Plus, karena sekarang aku adalah ISTRI, maka aku bangun jam tiga pagi untuk menyiapkan makan sahur. (*huhuhu…*)

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Cerita, Kotaku, Perasaan Hati | Tag , , , | Meninggalkan komentar